Ul-Daul; Musik Tradisi Madura yang Fenomenal



Oleh Syaf Anton Wr



Musik Ul-daul, bagi masyarakat Madura, merupakan fenomena seni (musik) tradisi yang mulai banyak diminati masyarakat. Un-daul, pada prinsipnya sebagai musik perkusi yang tidak banyak membutuhkan pengalaman musik dalam memainkannya. Fenomena Un-daul sebenarnya merupakan pengembangan musik Tong-tong, yang sejak awal menjadi musik yang berciri khas Madura yang dimainkan dengan pukulan monoton namun melahirkan irama dinamis sebagaimana musik-musik perkusi umumnya.



Sebagai musik. Tong-tong, membuhkan alat-alat sederhana yang didapat disekitar masyarakat yang semuanya terbuat dari bambu. Ada beberapa jenis ukuran yang terbuat dari potongan bambu; dari mulai ukuran besar panjang sekitar setengah sampai satu meter dengan diameter 40 – 50 cm, yang akan melahirnya bunyi besar. Sedangkan ukuran berikutnya, makin mengecil sesuai dengan kebutuhan irama. Ketika ditabuh (dipukul dengan potongan kayu), masing-masing penabuh memiliki pukul statis/monoton, namun keberagaman jenis dan ukuran yang beda akhirnya menjadi irama harmonis dan indah. Musik Tong-tong, (kerap disebu untuk wilayah Kabupaten Sumenep, pernah dikembangkan menjadi musik “Ghursah”, yaitu musik ini dikembangkan sebagai bentuk pengiring lagu-lagu, yang umumnya lagu-lagu Madura oleh penyanyinya, dengan tetap mepertahankan musik perkusi. Namun dalam musik Ghursah dibengkan dengan alat-alat musik lebih besar, bukan saja terbuat dari bambu, tapi juga terbuat dari balok kayu. Tong-tong atau ghursah kerap disebut, dhung-dhung, bung-bung, dan sebutan lainnya.

Musik Ghursah ini, spesifikasinya ditampilkan dalam penampilan terbuka sebagai tontonan umum. Bahkan untuk acara hajat perkawinan, maupun acara-acara penyambutan tamu; tamu kunjungan maupun tamu wisata. Tapi disayangkan, musik Ghursah ini hilang begitu saja. Ul-daul, Pengembang Musik Tong-tong. Sebagaimana musik Tong-tong, Ul-daulpun awal pengembangannya diperagakan sebagai musik patrol sahur, namun dalam perkembangannya musik Tong-tong kurang diminati, lantaran – barangkali – alat-alat musik lain mulai dipegunakan para patroli sahur. Bahkan bukan alat-alat musik yang mulai terjadi perubahan, alat suara (sound system) jauh lebuih praktis dan nyaring dimanfaatkan kelompok patrol ini berkeling kampung. Dari sinilah tradisi patrol sahur dalam bulan Ramadlan semakin langka./ul>



Entah bagaimana awalnya, tampaknya ada kesepakatan tidak tertulis dari pelaku patrol sahur. Barangkali mereka (patroli sahur) termotivasi fenomena musik di Indonesia, sehingga musik Tong-tong dikembangkan lagi menjadi lebih proporsional. Alat-alat musik tidak ada bedanya dengan alat musik sebelumnya, namun disini dilengkapi intrumen baru, meski sangat sederhana. Contoh misal, untuk melahirkan irama melodi mereka gunakan alat musik gamelan peking, atau untuk tambur, mereka galon minuman mineral untuk melahirkan bunyi bas, dan lainnya.

Tari Tradisional Indonesia







Tarian Daerah Indonesia dengan beraneka ragam jenis tarian indonesia seni tari membuat indonesia kaya akan adat kebudayaan kesenian. Dengan mengenal lebih banyak Tarian adat di seluruh provinsi di indonesia mudah – mudahan membuat kita lebih mencintai negeri kita ini. Contoh macam macam tarian daerah indonesia yang akan di sajikan di bawah ini bisa di jadikan referensi buat kamu yang sedang mengumpulkan informasi mengenai macam-macam seni tari di seluruh provinsi indonesia bisa untuk contoh makalah atau contoh laporan atau bisa juga untuk bahan pidato yang di susun berdasarkan abjad.



Tarian Daerah Provinsi Bali

1. Tari Kecak

2. Tari Legong

3. Tari Barongan

4. Tari Pendet



Tarian Daerah Banten

1. Tari Prajurit



Tarian Daerah Provinsi Bengkulu

1. Tari Andun

2. Tari Bidadari Terminang Anak

3. Tari Ganau



Tarian Daerah Provinsi DI Aceh

1. Tari Saman

2. Tari Seudati



Tarian Daerah Propinsi DI Yogyakarta

1. Tari Bedaya Pangkur

2. Tari Serimpi



Tarian Daerah Gorontalo

1. Tari Dana-Dana



Tarian Daerah DKI Jakarta

1. Tari Betawi

2. Tari Yapong



Tarian Daerah Jambi

1. Tari Sekapur Sirih

2. Tari Selampir Delapan



Tarian Daerah Provinsi Jawa Barat

1. Tari Jaipong

2. Tari Topeng



Tarian Daerah Provinsi Jawa Tengah

1. Tari Bambang Cakil

2. Tari Sintren



Tarian Daerah Provinsi Jawa Timur

1. Tari Gandrung Banyuwangi

2. Tari Remo

3. Tari Reog Ponorogo



Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Barat

1. Tari Monong

2. Tari Zapin



Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

1. Tari Babujugan

2. Tari Radap Rahayu



Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Tengah

1. Tari Dadas dan Bawo

2. Tari Giring-Giring



Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Timur

1. Tari Gong



Tarian Daerah Kepulauan Riau

1. Tari Tandak,

2. Tori Joged Lambak



Tarian Daerah Propinsi Lampung

1. Tari Bedana

2. Tari Jangget

3. Tari Malinting



Tarian Daerah Propinsi Maluku

1. Tari Cakalele

2. Tari Lenso

3. Tari Nahar Iaa

4. Tari Perang

5. Tari Tidetide



Tarian Daerah Propinsi Nusa Tenggara Barat

1. Tari Batu Nganga

2. Tari Mpaa Lenggogo



Tarian Daerah Propinsi Nusa Tenggara Barat

1. Tari Batu Nganga

2. Tari Mpaa Lenggogo



Tarian Daerah Propinsi Nusa Tenggara Timur

1. Tari Gareng Lameng

2. Tari Perang



Tarian Daerah Propinsi Papua

1. Tari Musyoh

2. Tari Selamat Datang

3. Tari Sojojo Papua

4. Tari Papua

5. Tari Perang

6. Tari Suanggi



Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Selatan

1. Tari Bosara

2. Tari Kipas

3. Tari Pakarena



Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Tengah

1. Tari patuddu

2. Tari Dero Poso

3. Tari Lumense admin

4. Tari Pamonte admin

5. Tari Peule Cinde

6. Tari Torompio



Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Tenggara

1. Tari Balumpa

2. Tari Dinggu

3. Tari Lumense

4. Tari Manguru



Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Utara

1. Tari Katrili

2. Tari Maengket

3. Tari Polo-Palo



Tarian Daerah Propinsi Sumatra Barat

1. Tari Lilin

2. Tari Payung

3. Tari Piring



Tarian Daerah Propinsi Sumatra Selatan

1. Tari Gending Sriwijaya

2. Tari Putri Bekhusek

3. Tari Tanggai



Tarian Daerah Propinsi Sumatra Utara

1. Tari Serampang Dua Belas

2. Tari Tor Tor

Gondang


Terminologi “GONDANG” dalam bahasa Mandailing mengandung beberapa pengertian yaitu: alat musik, gabungan dari sejumlah alat musik (ensambel), nama lagu atau repertoar, irama atau ritmik, jenis musik tertentu, dan sebagai musik itu sendiri. Sehubungan dengan itulah situs ini diberi nama Gondang yang isinya memuat informasi tentang seni dan budaya suku-bangsa Mandailing.

Suku-bangsa Mandailing bermukim di pedalaman pesisir pantai barat daya pulau Sumatra dan wilayah pemukiman mereka itu dikenal dengan berbagai nama sebutan yaitu Tano Sere, Tano Rura, Luat Mandailing atau Banua Mandailing yang memiliki batas-batas wilayah tertentu. Secara tradisional orang Mandailing membagi wilayah pemukiman mereka menjadi dua bahagian utama yaitu Mandailing Godang dan Mandailing Julu. Sebelum proklamasi kemerdekaan negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, wilayah Mandailing Godang berada dibawah kekuasaan raja-raja bermarga Nasution,

sedangkan wilayah Mandailing Julu dikuasai dan diperintah oleh raja-raja bermarga Lubis. Di samping marga Lubis dan Nasution terdapat pula marga-marga lainnya seperti Pulungan, Rangkuti, Daulae, Hasibuan, Parinduri, Batubara, Dalimunte, dan sebagainya.
Di sebelah utara, Mandailing berbatas dengan Angkola yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Simarongit di Desa Sihepeng. Sedangkan perbatasannya dengan Padang Bolak berada di suatu tempat bernama Rudang Sinabur. Di sebelah barat Mandailing terletak wilayah Natal yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Lingga Bayu. Sebelah selatan wilayah Mandailing berbatas dengan Pasaman (Sumatera Barat) yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Ranjo Batu. Namun batas wilayah Mandailing dengan wilayah sebelah timur tidak diketahui karena tidak pernah disebut-sebut orang.
Seperti halnya suku-suku bangsa lain di Nusantara, orang Mandailing juga memiliki aneka ragam musik tradisional yang keadaannya sangat memprihatinkan di era

globalisasi ini karena semuanya sudah berada di ambang kepunahan.
Adapun alat-alat musik tradisional Mandailing dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Membranofon : gordang sambilan dan gondang dua
Aerofon : suling, salung, sordam, tulila, katoid, saleot, dan uyup-uyup
Metalofon : ogung, momongan, doal, dan talisasayat
Idiofon : etek, dongung-dongung, pior, gondang aek dan eor-eor
Kordofon : gordang tano dan gondang bulu
Repertoar musik tradisional Mandailing
Gondang

1 Jolo-jolo Turun; 2 Alap-alap Tondi; 3 Moncak (Kutindik); 4 Raja-raja; 5 Ideng-ideng; 6 Tua; 7 Sampuara Batu Magulang; 8 Roba Na Mosok; 9 Mandailing; 10 Pamulihon; 11 Udan Potir; 12 Porang; 13 Sarama Datu; 14 Sarama Babiat; 15 Lima; 16 Roto; 17 Sampedang; 18 Aek Magodang (Touk); 19 Mamele Begu; 20 Tortor.
Ende (Nyanyian)

1 Ungut-ungut; 2 Sitogol; 3 Jeir; 4 Bue-bue.
Ende-ende (Pantun, sastra lama)
Turi-turian (Cerita Bertutur)
1 Raja Gorga di Langit; 2 Nan Sondang Milong-ilong; 3 dan lain-lain.
Logu (Leitmotivic)
1 Uyup-uyup; 2 opat-opat; 3 Ende Panjang; 4 dan lain-lain.

Sasando



Sasando merupakan alat musik tradisi berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, tergolong instumen musik petik. Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari

atas ke bawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando. Tehnik bermain sasando ada miripnya dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola dan kecapi. Selain dimainkan secara solo, Sasando juga dapat dimainkan secara orkestra.

Legenda sasando
Konon, ada seorang pemuda bernama Sangguana di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Suatu hari ia menggembala di padang sabana. Ketika merasa lelah dan ngantuk, ia pun jatuh tertidur di bawah sebuah pohon lontar. Dalam tidur, ia bermimpi memainkan sebuah alat musik misterius. Ketika terbangun ia masih mengingat nada-nada yang dimainkannya. Saat kembali tidur, anehnya ia kembali memimpikan hal yang sama. Akhirnya,

berdasarkan mimpinya itu Sangguana memutuskan membuat sebuah alat musik dari daun lontar dengan senar-senar di tengahnya. Alat musik yang mirip harpa itu sekarang dikenal sebagai sasando. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Konon sasando digunakan di kalangan masyarakat Rote sejak abad ke-7.//mediaedukasi.com

Seni Kercengan Bawean


Bukan warga Bawean kalau tidak bisa menciptakan sesuatu yang sifatnya alternatif, sekalipun hal itu berupa kesenian. Khawatir dengan budaya modern yang terlalu mengumbas goyangan erotis dan pornoaksi, sejumlah seniman Bawean menciptakan kesenian Kercengan. Karena dicipatkan seniman asli Bawean, tarian ini bernuansa religius.

KALAU kita pernah melihat tarian Saman dari Nagro Aceh Darussalam, maka kesenian tersebut hampir mirip dengan seni Kercengan di Bawean. Bedanya penari Kercengan membawa alat musik kercengan yang menari mengikuti alunan alat musik kercengan. Sementara tari Saman, penarinya murni melakukan atraksi olah tubuh tari-tarian degan diiringi nyanyian sang penari.
Serupa tapi tidak sama, demikian penilaian orang saat membandingkan Kercengan dengan tarian Saman. Untuk tarian Kercengan, penarinya terdiri puluhan orang gadis berjejer beberapa baris di depan. Seperti dengan tarian Saman, seni Kercengan juga mengutamakan gerak tangan, menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian, yaitu tepuk tangan dan tepuk dada.
Selain grup penari, dalam seni Kercengan juga ada grup musik, yang terdiri beberapa orang pria duduk di belakang penari mengirini alunan tari. Para pemusik ini memainkan irama serasi dengan menabuh rebana al-banjari. Selain itu, ada grup penyanyi yang biasanya membawakan shalawat. Untuk penyanyi ini, ada pria dan wanita.
Saat ini di Bawean sedikitnya ada 42 grup seni Kercengan, tidak hanya mampu menarik masyarakat yang berjarak 81 mil dari Pelabuhan Gresik itu saja, masyarakat dari negeri asing seperti Malaysia juga terhibur dengan kesenian bernafaskan religi tersebut. Di negeri Jiran, saat ini ada beberapa grup Kercengan yang sudah populer, salah satunya grup Putri Paginda Ampang.
Adalah Iling Khairil Anwar, Ketua Umum Lembaga Eskavasi Budaya (BEKU) yang memiliki kelompok penari Kercengan. Nama kelompoknya "Bhei-Bhei" yang cukup dikenal di kalanan masyarakat Bawean, sebagai salah satu grup Kercengan asli di Bawean.
Menurut Iling Khairil Anwar, Kercengan ini muncul sebagai salah satu tameng masuknya hiburan-hiburan hot ke Bawean. Artinya, kesenian modern hot yang masuk ke Bawean, harus dihadapi dengan kesenian juga, tidak bisa jika hanya dengan menggelar pengajian saja.
"Sehingga untuk menandingi kesenian modern yang hoti itu, harus ada pembanding dari kalangan masyarakat. Salahsatunya adalah menciptakan kesenian yang lebih bernafaskan agama lebih baik daripada pertunjukan yang mempertontonkan aurat," paparnya.
Iling menilai, seni Kercengan tidak akan menarik jika tanpa seorang wanita ikut tampil. Karena tampilnya wanita bisa merubah suasana penampilan, namun tentunya disesuaikan dengan konsep busana yang Islami.
"Tidak menarik bila hanya menampilkan kalangan lelaki saja, sebab tidak bisa merubah suasana penampilan. Dalam konteks budaya, saya kira tidak haram sebab tujuannya baik," terangnya.
Ahidin sebagai Ketua Group Putri Paginda, mengatakan kesenian kercengan Bawean ternyata mendapat sambutan luar biasa dari seluruh warga Indonesia dan masyarakat setempat di Malaysia. "Suara merdu dengan irama bagus diiringi gerakan tangan yang kompak menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat di Malaysia," katanya.
Menariknya, personel grup Kercengan Putri Paginda Ampang adalah putra dan putri keturunan Bawean yang lahir di Malaysia. Grup ini sudah empat tahun eksis di Malaysia. Selain itu, seni Kercengan juga sering tampil di wilayah Gresikl kota, menghibur dalam acara-acara yang digelar oleh pemerintah kabupaten dan masyarajat umum. (*)//suaragiri.com

Kesenian Tari Gandrung Sasak Lombok


Tari kreasi ini berasal dari daerah Lombok. Gandrung rembak berarti gandrung banyak, maksudnya tari gandrung yang ditarikan oleh beberapa orang penari.

Pada awalnya gandrung adalah seni pertunjukan rakyat yang hidup berkembang di tengah-tengah masyarakat Lombok. Ditampil­kan di arena terbuka yang dikelilingi penonton, dengan waktu penyajian yang panjang yaitu lebih kurang 3 jam, gerakan-gerakan­nya bersifat improvisasi meskipun terdapat gerak-gerak tertentu yang menjadi ciri khas gerak pada tari tersebut, yaitu ngindang, gabor seriak, ngecok, dan tindak barong. Ditarikan seorang penari laki-laki yang berbusana wanita.


Untuk mengangkat tad gandrung pada panggung prosenium, pada tahun 1991 diadakan penataan tari gandrung oleh Abdul Hamid dan Dra. Luh Putu Sari Ekayani dengan menambah jumlah penari menjadi 5 orang penari wanita dan diberi nama Gandrung Rembak, dengan waktu penyajian 7 menit.

Gandrung merupakan tari pergaulan muda-mudi dan bersifat hiburan. Struktur penyajiannya terbagi menjadi 4 bagian, yaitu :

Bapangan, menggambarkan seorang gadis yang ingin menarik perhatian lawan jenisnya dengan memperlihatkan kemampu­annya sendiri.
Tangis, penggambaran perasaan rindu pada seseorang untuk diajak berkomunikasi, diungkapkan Iewat link lagu.
Penepekan, memilih seorang yang disenangi untuk diajak menari. Calon penari yang terpilih dinyatakan dengan sentuhan kipas (nepek) oleh penari gandrung.
Pengibingan, pengibingan berasal dari kata ngibing yang berarti menari bersama (antara penari gandrung dan penonton yang ditepek).
Penari memakai busana kain panjang, baju lengan panjang, kemben, gelung, ampok-ampok, bapang dan membawa property kipas. Pada bagian gelung dilengkapi dengan semacam senjata dari bambu yang diruncingkan, gunanya untuk melindungi dari gangguan pasangan menari yang nakal (kurang sopan).//lombokku.com

Parade Angklung Pecahkan Rekor

Pergelaran angklung yang diadakan di Monument Park, White House, Washington DC, Amerika Serikat, pada hari Sabtu (9/7) lalu, masuk dalam Guiness Book of Records sebagai jumlah pemain angklung terbanyak. Sebanyak 5.185 peserta pada Indonesia Multiculturism Festival di KBRI Washington DC turut serta memainkan angklung.

Dalam keterangan pers oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Ir. Herdiwan M.M, disebutkan bahwa antusiasme masyarakat di sana sangat tinggi. "Padahal target kami adalah 5.000 orang, ternyata pesertanya melebihi perkiraan," ungkapnya. Dengan meriahnya pertunjukkan tersebut, Herdiwan mengatakan bahwa warga di sana meminta untuk dilakukan kunjungan rutin oleh tim angklung.

Festival tersebut juga menampilkan kesenian Indonesia lain, seperti tari jaipong dan wayang golek. Parade angklung sendiri dipimpin oleh Daeng Udjo dari Saung Angklung Udjo. Gubernur Jawa Barat yang turut hadir dalam festival tersebut mengatakan, "Kita harus menjadikan kebudayaan sebagai komunitas yang dapat menguasai ekonomi kelak."